Senin, 01 Oktober 2012

HANYA MEMPUITISKAN PERISTIWA KECIL PADA SATU MALAM


PERISTIWA KECIL SATU:
PSYCHEDELIC

Sesungguhnya inilah yang terjadi, sayang; Pada hisapan kesekian tiba-tiba aku terjebak dalam ruang putih dengan frekuensi alfa dan tetha; Damai, terlalu damai. Di tempat itu, suara-suara menjauh, juga tanda tentang kehadiranmu. Ya, engkau raib, seiring dengan fikiranku yang semakin kosong. Lalu, Ilusi dan mimpi tiga dimensi hadir seperti cahaya yang terpancar vertical di garis horizon sebelah timur. Sertamerta matahari tersembul dari celah renik pualam di ujung lantai yang jauh. Begitu terang, melambungkan sejuta harapan. Membentangkan sinarnya ke sudut-sudut dinding usang yang dipenuhi bingkai-bingkai kaca dengan kecepatan yang tak terhitung. Berbenturan, hingga menjadi tempias butir bening dan membeling. Tapi seiring hari yang lekas menjadi hitam, semuanya melayang ke langit yang cerah, dan menjelma menjadi bintang-bintang berekor sebelum akhirnya kembali menjatuhkan diri ke kotak-kotak angan yang belum ternamai. Belingsatan ke delapan kutub arah mata angin, melahirkan kilatan-kilatan serupa lampu-lampu laser. Sebentar terang, sebentar gelap, sebentar terang sebentar gelap. Runyam, tapi aku masih bisa melihat sekuens-sekuens peristiwa terakhir. Terus, memori merunutkan kisah dari masa yang lain, dan angan-angan malam. Semakin lama semakin  tak jelas. Hitam – putih – hitam – putih, lalu lenyap ketika ganja terasa sepat di lidah. Mengembalikan kesadaran. Aku pun tahu, bahwa kenyataan sudah tak lagi memberikanku pengalaman seru.

… []


PERISTIWA KECIL DUA:
GEMINTANG


Mungkin karena selinting ganja membuatku merasa kau mendengar maafku, ketika melihatmu tersenyum di waktu yang berhenti pada moment berwarna sepia, tertangkap lensa kamera. Lalu, aku masuk ke dalam foto itu sebagai kekasih dengan hati yang sepi. Menggenggam dingin keheningan cintamu, yang kerap kukunjungi sebagai gemintang, untuk menemaniku melewati perjalanan malam! entah dalam keterjagaan atau tidur , hingga aku tak tahu, pendarmu itu nyata atau hanya mimpi.

Sungguh, ini saat yang sempurna untuk melakukan apapun. Dan aku tengadah ke langit yang lagi cerah dan terlihat luas, tertatap jelas rindu berwarna merah dan seraut wajahmu. Lalu aku berdesir; kau selalu indah untukku, mesti semesta menasbihmu untuk kegelapan ke kegelapan.

… []


PERISTIWA KECIL TIGA:
BULAN KOTAK


Karena aku telah banyak kehilangan, maka sering sekali membayangkan semuanya kembali; Perjalanan kita dalam mimpi yang sama misalnya, ketika kaki-kaki kau dan aku melangkah bukan untuk sebuah tujuan, tapi hanya untuk mendapatkan apa saja yang bisa di dapat; pernah kau dan aku menemukan bulan kotak tersembul di sepokok pohon karet. Awalnya kita fikir itu neon, namun kita percaya setelah  cahayanya dapat mengubah titik-titik bening air mata menjadi pelangi. Lalu kita membawanya pulang, dan menempelkannya di langit-langit kamar. Sering kita memandangnya, sambil tiduran di ranjang sampai malam mengantarkan asmara pada dimensi yang tak seorang pun dapat menjamahnya selain kita.

“ kita harus menjaganya, jangan sampai hilang!” katamu.

“ Tentu saja. Atau kita akan kembali bersedih”

… []


PERISTIWA KECIL EMPAT:
DÉJÀ VU


Selamat malam, matahari. Kenyataan dan realitas bermula. Perjalanan hari, di antara terang dan gelap hidup, untuk menjemput sebuah kesejatian yang sedang menanti dalam angan-angan seseorang yang pernah memiliki harapan dan kehilanganya. Yang bermimpi dan selalu bersembunyi, di antara bayang-bayang yang tak ada, dan pohon-pohon crystal yang diciptakanya sendiri, hingga hatinya gelap. Lalu, tiba-tiba waktu seakan tak asing lagi, ketika tik tok jarum jam mengubah hujan menjadi apa saja yang kita inginkan, seiring matahari malam memancarkan cahaya di dunia kelabunya; baju-baju sebening kaca, aquariaum yang sangat besar hingga tak sanggup menghapal ikan-ikan yang ada di dalamnya, sayap-sayap yang akan mengantarkan kau dan aku pergi ke negri-negri yang tersembunyi di balik langit-langit kamar kita, dan menemukan ruang lain yang penuh raut-raut wajah dengan satu ekspresi; bahagia.

Kau hanya melongo seolah melihat perubahan, dan berkata; aku merasa pernah mengalami peristiwa ini. Atau mungkin aku hanya lupa, karena begitu banyak kebahagiaan yang sering dihayalkan, dan terus menghayalkannya, berulang kali.

… []


PERISTIWA KECIL LIMA:
PERTEMUAN


Akhirnya, kau dan aku bertemu kembali, pada saat cinta hanyalah sebuah perasaan yang sulit untuk dimengerti. Begitu banyak tafsir, begitu banyak terkaan, yang menumbuhkan kegelisahan malam, dan senyuman fajar secara bersamaan tepat di mana kita berdiri, bersama bayang bayang dan selebihnya ilusi. Tapi kita hanya ingin pantas untuk menjadi seorang kekasih, hingga hati tak pernah menuntut penjelasan. “ seperti dulu… seperti dulu”  Desirku.

( Ingatkah kamu. ketika itu musim panas baru saja berlalu. Lalu pohon-pohon kristal kita tumbuh di sekeliling sebuah coffee bar kecil jalan Braga yang sepi pengunjung  dan basah. Tanpa lamunan lagi, kau dan aku menghabiskan malam dan sesisa kelembaban yang tertinggal dalam jean belel. Asyik di setiap jeda waktu yang mengubah realitas menjadi cerita-cerita untuk di bawa pulang sebagai senyuman dari sebuah kebersamaan. Sebuah tempat yang nyaman untuk berteduh dari hujan. Kita duduk di meja tanpa taplak, yang di atasnya terdapat banyak seberkas harapan jalinan asmara sesesorang,  guratan  kerinduan yang tertinggal bersama remah-remah roti dan mimpi, juga wewangian yang entah dari mana datangnya. Ada kehangatan, yang membuat aku dan kamu tak menyadari bahwa tak ada lagi titik-titik air yang tadi membasahi perjalanan dan hati yang patuh pada getaran kebahagiaan. Di sana, jari jemari kita saling berpagutan, lalu kau berkata; Mari, kita lari ke batas raihan sebuah kemesraan, lalu berteriak memekak, bungah. Serupa kota besar, kau tawarkan sejuta asa, dan entahlah, sejak saat itu, hati kau dan aku merasa bukan lagi milik kita sendiri.Tapi seperti kali ini, terulang lagi kita tak pernah menuntut penjelasan. )

ah, mungkin cinta lebih misterius dari apa yang kita kira. Jawabmu.

… []


PERISTIWA KECIL ENAM:
DI MEJA TERAS UNTUK BERDUA


Mari duduk di teras saja!
Kita siapkan meja untuk berdua
dengan dihiasi karangan bunga, dan gelas – gelas lilin
yang cahayanya mampu melindapkan gelap dari ingatan

Di sana, kita bisa memandang langit kelam
sampai habis rembulan, melengkapkan malam
dan mimpi-mimpi yang tak akan pernah kembali.
Tak akan pernah kembali lagi

Dan kita bisukan kenangan, juga angan-angan.
kita tidak perlu banyak bicara,
kita sudah tak punya kata-kata
Sebab kita adalah kisah;
slalu datang dan pergi
untuk sesuatu yang tak pernah selesai
bukankah waktu akan slalu berjalan
dalam siklus yang tidak bisa luput dari perpisahan.

… []


PERISTIWA KECIL TUJUH:
CINTA YANG LARUT DALAM SECANGKIR KOPI


Sayang, malam ini aku ingin espresso
agar warna dan rasanya cocok dengan kisah cinta kita;
hitam dan pahit

Sesungguhnya, aku pecandu kopi
tapi tak begitu mengenal banyak tentangnya
hanya bisa membedakan antara enak atau tidak
begitu pula terhadap asmara

Jadi tuangkan saja ke dalam cangkir itu
Setelah meminumnya, kita bisa buat pilihan;
Membuangnya, atau menikmatinya

… []


PERISTIWA KECIL DELAPAN:
KOTAK MUSIK


/1/

Ke kamarmu, seperti berada dalam sebuah kotak musik yang pernah kuberikan. Hanya ada penari angsa yang berputar-putar dalam gerak monotoni, di iringi satu lagu yang itu-itu saja. Tapi, kenangan membuat aku dan kamu tak pernah bosan memainkanya. Pastikan agar slalu terbuka, bila kita temukan titik bosan, aku dan kamu akan tahu, bahwa cinta kadang lebih membutuhkan kisah dari pada kekasih. Dan biarkan waktu yang menutupnya, ketika semua kembali fana, dan hati kita menjadi hitam.


/2/


Dahulu, kutempuh jarak bermil-mil ke tempatmu, hanya untuk memberikan kotak musik ini. Sekarang kenangan membukanya kembali, dan menemukan malam dengan kutukan dosanya, menghadirkan kita menghadirkan cinta. Menghadirkan kalimat seiya-sekata. “ Masihkah kau sehangat dahulu?” Tanyaku, pelan-pelan. Ketika lampu sudah dimatikan, juga rahasia tentang kerinduan kita. Ruang kamar hanya dibiasi sinar dari cahaya tivi yang sengaja dinyalakan tanpa suara, hingga yang bisa kulihat hanya siluetmu, dan kegelapan yang bikin batas antara rasa dan dosa sudah tak mutlak lagi. Aku dan kamu pun sadar, bahwa masa lalu hanya menyimpan lagu yang kelam.


/3/


Udara semakin dingin, mendekap angan, mendekap ingin. Aku dan kamu menutup kotak musik itu. Ruang kamar pun menjadi hening, dan kita juga tak banyak bicara, membuat malam menjadi pendiam. Kita hanya saling meladeni dan diladeni dekapan, sebelum akhirnya momen pun jadi; Tanpa lagu, dan penari angsa.

O, gairah apa yang sungguh besar. Akan terhasratkan, ketika asmara sejalin; berahi, bukan Ilahi. Salahkah cinta, bila tak mampu membedakan antara arti kesenangan dan kebahagiaan? Tanyamu, tapi tak berharap jawaban. Kita sudah sama-sama tahu;  Ah, cinta adalah cahaya yang menciptakan terang dan bayang.


/4/


Kotak musik itu hanya akan menjadi sebagai benda koleksi, bila tanpa kenangan. Seperti juga cinta kita. Aku ingin lebih bernyawa. Memang, kuinginkan tubuhmu, dengan parfum yang sentimental dan romantis itu, juga kekuatan yang menolak untuk ditekan dan ditundukan. Yang kini telah tersingkap seluruh auratnya. Menanggalkan g-string, kebekuan, dan semua pantangan yang ada, lalu menyematkan syahwat berwarna langsat asmara. Sungguh, tak bosan aku merabanya,  dengan tangan, rasa, dan segala yang tak pernah memahami arti kepuasan. Tapi, aku juga ingin menyentuhmu di tempat yang lebih sensitive; hati itu.

… []




Bandung, 2011

DALAM KEABADIAN CINTA KEKASIHMU, TUHAN


-Untuk Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri  

Cinta dengan ketekunan misterinya.

Ketika para kekasih diajari melalui iman,
untuk mengeja kalam yang berbisik, mistis
dalam dzat ruh dan keheningan
ruang yang sesungguhnya
tak ada kuil berkubah emas, altar berlantai marmar
atau dinding dengan ukiran mewah
hanya ada keyakinan
sebagai tempat perlindungan, sekaligus kekuatan
laksana benteng,
mengurung untuk tetap tenang dalam peperangan
hingga kepada kebenaran mereka tetap tegap melangkah,
mesti tanpa apa–apa,
kecuali gejolak untuk tak pernah ingin berhenti.
hingga di hadapan kepalsuan mereka tak ragu membuka medan,
mesti tanpa apa – apa,
kecuali gairah untuk tak pernah ingin kalah

Dan kini, ketika lembar – lembar papyrus menjadi tua,
yang sejati tersalin dalam hati yang dilestarikan kasih sayang.
di cahaya Ramadan,
aku kembali membacanya,
membuka halaman ke halaman,
yang terus tersingkap
karena mukjizat mungkin tidak akan ada lagi,
tapi apa yang telah terlahir hakiki takan menjadi usang.
NubuatMu adalah khazanah surgawi,
menyimpan segala keindahan dan kedamaian,
hingga aku tak pernah bertanya lagi
tentang arti sesungguhnya dari kebahagiaan.


DITHA TEGUH GUMELAR
BANDUNG, 08 - 2011


MENYETUBUHI JIWA SEORANG PELACUR


oleh Dita Teguh Gumelar pada 27 Juli 2011 pukul 21:33 ·
Malam semakin larut dan udara pun semakin dingin, menyemaikan rasa kangen akan hangat pelukan kekasih. Dikeremangan cahaya kamar, aku duduk termangu-mangu di sudut ranjang. Termenung dengan mata memandang kosong ke arah langit melalui kaca jendela. Sendiri, terdiam terikat gravitasi. Sekitar begitu lengang. Aku merasa kesepian sekali. Kuning keemasan cahaya rembulan yang slalu setia menanti tangisan jiwaku seperti akhir dari sebuah harapan.

Aku menyulut rokok filter, dan menghembuskan asapnya keudara. Mesti suasana kamar sudah tidak menyediakan apa – apa lagi selain kesenduan, aku tidak tergerak untuk meninggalkanya. Maka mematunglah aku dengan khayalan dan fikiran yang berkeliaran kemana-mana. Lalu segala nuansa yang ada pun sertamerta menyingkaf khazanah masa lalu. Cuplikan – cuplikan kisah yang akan pernah terjadi lagi dan tak bisa di putar jarum jam kembali tergambar di layar benakku. Ingatanku terus merangkak dari satu kenangan ke kenangan lain.

Lalu, aku terkenang kembali pada Levia Tan ( Sebut saja dengan nama itu). Dia seorang perempuan yang pernah memintaku untuk melupakannya, namun aku tak pernah bisa menemukan cara untuk memujudkan keinginannya tersebut. Sampai sekarang, aku masih bisa melihat dengan jelas dalam ingatan, bagaimana cara matanya memandang, indah senyumannya, hingga lembut perkataan sayangnya. Sungguh, setelah hidup tanpa Levia, aku kehilangan banyak hal.

Sejak semula, sebenarnya aku dan levia sudah bisa menduga bahwa hubungan kami tidak akan langgeng, sebab kami menjalaninya dengan ketakutan, bukan harapan. Cinta kami sudah tidak memiliki kepastian lagi. Tak ada masa depan, sebab dia seorang pelacur.

“ Mencintaimu adalah hal yang paling aku takutkan, tapi perasaan itu tumbuh tak terkendali” Kataku di suatu malam yang sama seperti malam ini; pekat dengan nuansa sendu. Tentu saya gaya bahasa kami yang sesungguhnya tidak seperti ini, aku menatanya agar enak untuk di baca.

“ Aku juga seperti itu.” Sahut Levia. Matanya yang bulat indah itu tak memandangku sepanjang mengatakanya, dia menatap kea rah lain. “ Aku merasa tak pantas untuk dicintai dan mencintai. Tapi itulah cinta, siapa yang bisa mengendalikanya”

“ Tak ada satu individu dari manusia yang berada dalam posisi tak memiliki hak untuk saling mencintai dan dicintai” Aku terdiam sejurus untuk menghiruk nafas panjang sebelum kembali membuka suara. “ Aku takut, karena ragu terhadap diriku sendiri. Aku ragu tak dapat membahagiakanmu.” Lanjutku. “ Andai saja aku orang kaya, hingga kau tak perlu bekerja lagi. ”

“ Aku sering berfikir untuk berhenti dari pekerjaanku. Tapi, banyak hal yang membuat itu tak mudah untuk di wujudkan” Ujar Levia. “ Ah, mungkin memang sudah seharusnya berjalan seperti ini”

“ Mengapa kamu bisa sampai ke jalan ini? Tanyaku dengan rasa penasaran, sebab selama ini aku ingin tahu, tapi hanya memendamnya saja.

“ Ceritanya panjang” Seru perempuan pemilik wajah berbentuk oval dan berhidung mancung itu.

“ Aku akan mendengarkan”

Levia mengambil nafas sejenak sebelum mengungkapkannya. "Sejak meninggalkan keluarganya yang sulit untuk dikatakan harmonis dan disfungsional, aku harus menyerang segala keadaanya seorang diri.” Dia mulai bercerita dengan nada yang datar dan pelan-pelan. “ Delapan belas tahun usiaku ketika itu. Memulai babakan hidup baru, dan mencoba melahirkan kembali kebahagiaan yang telah di rebut. Namun, itu tidak semudah yang aku kira, masalah demi masalah datang menerjang. Dari semua masalah yang aku hadapi, krisis keuangan yang paling berat. Sejumlah materi yang aku bawa dari rumah kian hari kian berkurang. Aku harus mencari sumber penghasilan jika tak ingin lagi pulang ke tempat yang hanya menyuguhkan ketidak nyamanan. Sungguh menjadi sebuah bayangan yang mengerikan bagiku apabila harus kembali tinggal bersama orang tuaku, sebab bukan tidak mungkin, aku akan kembali menyaksikan pertikaian demi pertikaian mereka, itu sebuah hal yang paling mengecewakan bagi seorang anak.”

“ Aku mengerti kesedihanmu. Aku juga mengalaminya” Kataku sambil mengelus-elus pundaknya dengan kulit putih bersih itu, dan menawarkan pundaku untuk dia bersandar. Levia pun melanjutkan cerita dalam dekapanku.

“ Aku mulai memburu pekejaan. Dengan izasah SMU, aku melamar dari perusahaan ke perusahaan. Tanpa ada perjuangan keras, aku di terima oleh sebuah perusahaan agensi SPG (Selles Promotion Girls) untuk menjadi karyawanya paruh waktu. Tentu saja, gajih dari profesi tersebut tak dapat mencukupi kebutuhan hidup. Sebab, aku hanya bekerja tiga hari dalam seminggu; satu hari untuk briefing, dua hari operasional di tempat – tempat yang di tentukan dengan bayaran 350 ribu.” Ucap Levia, masih dalam nuansa yang sendu. “ Tapi Aku tetap menjalaninya sambil mencari pekerjaan lain. Tak lebih dari dua bulan, aku mendapatkan pekerjaan baru sebagai cutomer Service di sebuah perusahaan Provider Cellular terkemuka di Indonesia, dengan penghasilan tiga kali lebih besar dari pekerjaan dia sebelumnya. Aku bersyukur, dan menjalaninya dengan suka cita. Akan tetapi, pada suatu saat, aku mendapat tawaran untuk menjadi pemandu lagu di sebuah karaoke entertainment.”

“ Dan kamu menerimanya”

“ Ya” Jawab Levia “  Aku masih terlalu remaja untuk berfikir panjang. Karena profesi tersebut menjanjikan pendapatan yang menggiurkan, Aku pun menerimanya tanpa pertimbangan yang matang” Lanjut Levia. “ Untuk beberapa minggu aku benar-benar menjadi seorang pemandu lagu yang hanya melakukan pekerjaan tak lebih dari tugasku. Tapi lingkungan yang dipenuhi individu dari manusia yang gemar memburu hal – hal bersifat kedagingan, mempengaruhi jiwa dan cara pikirku, yang ketika itu masih begitu labil. Akhirnya, aku menjadi salah satu dari mereka.

“ Ah, hampir semua pelaku hiburan malam tak ada yang selamat dari wabah sekulerisme dan hedonisme.”

Dia mengangguk – anggukan kepala dan kembali melanjutkan ceritanya “ Semua menjadi awal dimana akhirnya keduniawian dan kesenangan menjadi motivasiku untuk bertahan hidup”

“ Lalu”

“ Aku semakin gila. Materi memang kerap membutakan hati nurani, dan itu terjadi terhadapku. Aku mengalami khilaf ketika kerja keras dan kesabaran tidak juga membawaku pada kehidupan yang lebih baik. Rasa lelah karena harus mengulang tahapan yang sama dalam mencapai kesuksesan, menuntunku untuk memilih jalan pintas sebagai sebuah sikaf protes. Dengan menghalalkan segala cara, aku mencoba mewujudkan impian untuk menjadi seseorang yang hidup dalam kemapanan. Meski banyak yang di pertaruhkan di sana, tapi aku tak peduli. Aku memang seorang yang selalu merasa lebih mengetahui peranya dari sesiapa pun, dan aku sudah memilih jalan hidupku untuk menjadi pemandu lagu yang tak sekedar menemani tamu – tamu bernyanyi. Aku menerima layanan lebih, dan kau pasti mengerti apa itu tanpa aku katakan”

“ Apakah kamu merasa sudah meraih semua cita –cita itu”

“ Kamu lihat sendiri” Jawab Levia, sambil tetap betah bersandar di pundaku “ Semua itu bukanya membawaku pada kehidupan yang lebih baik, malah keterpurukan yang menyakitkan. Jangankan kaya secara materi, sekarang, untuk hati pun susah.”

“ Apakah kamu menyesal?” Tanyaku sambil membelai rambutnya yang panjang bergelombang itu.

“ Aku sudah kena batunya, dan yang bisa aku pelajari dari semua ini; sakitnya sesal slalu hidu melebihi potensinya.” Jawab Levia dengan nada yang melirih “ Kini, betapa hari-hariku adalah hari-hari yang berat untruk dilalui. Terlalu banyak luka. Terlalu banyak air mata. Namun, aku hanya bisa menyesalinya. Tak ada lagi yang bisa aku perbuat, aku sudah masuk terlalu dalam ke dunia ini “

“ Setiap orang tentu ingin bahagia, namun tak jarang takdir berkata lain. Dan ketika itu terjadi, kita hanya bisa menerimanya dengan cara masing-masing. Seorang teman pernah bicara kepadaku;kenyataan memang slalu tidak sesuai dengan harapan. Sesungguhnya, apa pun yang kita alami, hal itu wajar. Semua merupakan bagian dari proses yang harus kita jalani untuk menjadikan kita lebih dewasa dalam hidup. “

“ Apa yang aku alami, tak menjadikan aku dewasa, melainkan putus asa.”


***

Mencintai Levia, mungkin adalah kesalahan terbesarku, tapi aku tak menyesalinya. Aku yakin semua ini adalah salah satu drama dari Tuhan untuk kita, dan juga percaya, mana mungkin Dia meninggalkan kita begitu saja setelah membawa kita sejauh ini. Slalu ada hikmah dibalik takdir kita. Tak ada yang sia – sia di setiap rencanaNya. Tuhan sang maha perencana yang baik, dia ciptakan perjodohan kita bukan tanpa alasan.

Jadi ingat saat pertama kali kami ditakdirkan untuk saling mengisi hidup satu sama lain; Aku dan Levia sama – sama menjadi penghuni sebuah kossan. Kami baru saling berkenalan kira- kira dua bulan setelah dia tinggal di sana. Kami tak pernah membayangkan akan memiliki hubungan sejauh ini, sebab sebelumnya kami bersikaf acuh tak acuh satu sama lain, bahkan kami tidak pernah saling menyapa ketika kami sedang berpapasan. Peristiwa yang menjadi awal dari kisah penting dalam sejarah hidup kami begitu sederhana, ketika itu Levia kehilangan kunci pintu kamarnya, dan dia meminta tolong padaku untuk membukakan pintu itu dengan cara apa pun. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi tak sama lagi. Aku dan levia sering melewatkan perjalanan waktu bersama, walau hanya untuk sekedar minum kopi, bercengkrama mengisahkan kehidupan kami masing masing, dan berbagi lamunan.

“ Kehadiranmu, membuat hidupku jadi tak sepi lagi” Ucap Levia dengan nada lembut, dia tersenyum sepanjang mengatakanya. Barisan giginya yang putih rapih tersingkap di bibir tipis dan terkesan slalu basah. Manis sekali.“ Terimakasih telah menunjukan aku arti sebuah pertemanan “

“ Sama – sama. Aku juga merasa beruntung bisa mendepat kesempatan untuk masuk kedalam kehidupan kamu, dan berbagi” Aku menanggapinya.

“ Ngomong – ngomong, kenapa kita bisa menjadi akrab seperti ini? “

“ Entahlah, mungkin karena memiliki banyak kesamaan” Jawabku. “ Kita sama – sama anak broken home, punya minat yang sama terhadap seni, dan suka mabuk”

Dia tersenyum di buat – buat “ Ya, mungkin”

“ Apa pun itu, yang jelas, aku sangat menikmati saat – saat berada di sisimu, semoga kita akan slalu seperti ini selamanya. “

“ Semoga saja. “ Ujar Levia. Dia terdiam sejurus sebelum akhirnya kembali membuka suara. “Sebuah hubungan antara individu dari manusia slalu terkurung dalam misteri pertemuan dan perpisahan. Kita hanya dapat menjaga agar tetap saling  menggenggam erat tangan, dan selebihnya di luar kuasa kita

***

Ya, benar kata Levia; Sebuah hubungan antara individu dari manusia slalu terkurung dalam misteri pertemuan dan perpisahan. Kita hanya dapat menjaga agar tetap saling  menggenggam erat tangan, dan selebihnya di luar kuasa kita. Dan, Tuhan sudah menunjukan kuasanya.

“ Apa akan tetap berwarna merah muda puisi cinta, bagi kekasih –kekasih lain yang sakit dan patah hati? “ Tanyaku, yang sebenarnya sebuah pertanyaan yang tanpa menunggu jawaban,

Lama kita hanya diam, tak ada yang kau dan aku lakukan selain menatap kosong waktu yang berlalu bersama tik tok jam, sebelum akhirnya Levia membuka suara.“ Sejak semula; di larik awal, puisi cinta kita hanya pekat dengan warna gelap, dengan idiom – idiom terjal dan kacau.” Katanya dengan nada yang melirih, menanggapi ucapanku “ Slalu ada yang tak terhasratkan dalam batas keindahan untaian kata, jika kaidah – kaidah dan aturan berbahasanya lebih penting dari pada perasaan”

“ Dan sekarang kita telah sampai di larik terakhir” Aku terdiam sejurus untuk menyalakan rokok “ Ah, akhirnya kembali tiba Waktu; momen yang punya banyak tanya; ketika cinta tidak memberi penjelasan apa- apa, ketika makna kehadirannya sulit untuk di mengerti, ketika kita hanya ingin melupakan dan dilupakan”

***

Tiba – tiba, dari media player komputerku terdengar alunan musik yang akrab ditelinga, sebuah lagu lama yang di daur ulang oleh penyanyi pop Mariah Carey bertajuk ‘I Can’t live’. Tembang kesukaan Levia itu mengembalikan kesadaranku. Entah sudah berapa lama aku hanyut dalam kisah masa lalu itu. Tapi aku tak peduli dan hanya berkata dalam hati “ I Can’t Live. I Can’t Live Without U.”

Betapa, kita berpisah semudah dan sesederhana seperti kita bertemu, tapi sungguh meninggalkan sekotak kenangan yang teramat indah untuk dilupakan. Tak ada yang lebih indah saat kasandra di sisi. Kini, Levia mungkin tidak akan hadir kembali di alam panaku, namun aku masih bisa menemuinya dalam ingatan, dan itu sudah cukup bagiku.

“ Terimaksaih, Levia. Kehadiranmu begitu banyak memberi arti dalam hidupku. Walau sebentar, namun abadi dalam ingatan. Aku akan tetap merindukanmu “


Bandung, juli 2011

BERDIRI


oleh Dita Teguh Gumelar pada 1 Juli 2011 pukul 10:44 ·
( Orang – orang yunani pernah mengajari dunia pada lima ratus tahun sebelum masehi “ Hal terbaik adalah hal yang paling sulit)



Masa kanak – kanak adalah masa yang mestinya membahagiakan, namun di kehidupan Amira justru sebaliknya. Cacat fisik yang dia derita sejak lahir memaksanya untuk merangkai kisah kanak – kanak dengan air mata yang hampir tak berkesudahan. Seakan dunia tak pernah berputar untuknya, dan protes sering terungkap sebagai bentuk keinginan untuk berontak.

“ Mengapa Tuhan menciptakan aku dengan keadaan tak sempurna, jika Dia ingin  aku sebut Maha Adil?” Lenguh Amira, seorang anak yang lebih banyak bermain dalam mimpi. Riang berlari, di ruang tak berbatas. Jauh, meninggalkan kursi rodanya.

Yang sesungguhnya terjadi pada Amira adalah ia tidak menerima kenyataan, dan belum pernah mendengar kata -kata hebat dari seorang filosof besar prancis, Montaigne; Seseorang tidak akan merasa tersakiti begitu rupa oleh apa yang terjadi, tapi ia akan merasa tersakiti sedemikian rupa oleh pendapatnya tentang apa yang terjadi.

Andai Amira tahu seperti apa yang diperingatkan oleh Epictetus, bahwa kita harus merasa lebih peduli tentang menghilangkan fikiran – fikiran yang salah dari kepala kita daripada tentang menghilangkan tumor dan bengkak bernanah dari tubuh kita, mungkin dia tidak akan menderita seperti itu, dan melewati masa kanak – kanaknya dengan satu ekspresi; sedih.

*

Ketika kenyataan sudah tak menyenangkan lagi, kita pun hidup dalam ilusi. Begitu juga Amira, dia sering membayangkan dirinya bisa menunggangi sepedah, lalu mengayuhnya dengan kecepatan tinggi menuju taman, menuju senja, menuju tempat yang dia harapkan dapat membuatnya terkesima; surga.

“ Inikah masa kanak – kanakku, ibu? Hanya hidup dalam mimpi ” Tanya Amira kepada Ibunya, seseorang yang slalu setia menanti tangisan jiwa Amira. Sepanjang mengatakanya, Amira tak memandang wajah ibunya, Dia hanya terus mengawasi anak – anak sebayanya yang sedang kucing – kucingan di luar rumah melalui kaca jendela. “ Aku ingin seperti mereka, saling berkejaran hingga waktu tak terasa pelan - pelan lagi, bermain petak umpet sampai aku menemukan dan ditemukan tawa gembira, dan segala yang mengasikan”

“ Sesungguhnya kegembiraan tidak dapat ditentukan pada dimana kita berada, apa yang kita miliki, atau siapa kita, tapi semua bergantung pada sikaf mental.” Ibunya menanggapi “ Milton, seseorang yang buta menunjukan kebenaran itu dalam sebuah kalimat; Fikiran ditempatkanya sendiri, dan didalam dirinya sendiri, bisa membuat surga dari neraka, sebuah neraka dari surga.”

Tapi, Amira terlalu kecil untuk bisa mencerna kata – kata ibunya. “ Aku tidak mengerti, yang aku tahu, bahwa aku bosan di sini, aku bosan “

“ Ya, sudah. Kalau begitu jangan hanya berdiam saja di ambang jendela.” Ibunya sedikit emosi karena sikaf Amira yang begitu putus asa menghadapi kenyataanya” Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka, tapi kau harus berani memulainya, sebab keterbatasan manusia yang sesungguhnya adalah ketakutan, bukan karena kau tak punya kaki, atau karena tidak memiliki kesempurnaan fisik lain. Keluarlah, dan ajak mereka bermain! Bagaimana kau bisa menemukan sesuatu yang diinginkan, jika kau hanya mencarinya dalam mimpi? “

Amira mungkin sadar ibunya sedikit marah, sebab nadanya tak terdengar seperti biasa. Agak keras dan tegas. Amira pun tak langsung menanggapi ucapan terakhir ibunya, lama dia diam sebelum akhirnya membuka suara. “ Ya, aku takut, aku takut di ejek lagi, ibu” Ujar amira, dalam nuansa yang sendu. “Aku takut, dan tak mampu mengalahkan perasaan itu. Aku tak memiliki nyali untuk menaklukanya”

“ Dengan sikaf seperti itu, kau hanya akan menjadi pecundang untuk selamanya. Jangan menyiasati takdirmu dengan menyerah! Ketakutan adalah simbol kekalahan, dan itu memalukan, bahkan bangsa mongol yang paling idiot pun tahu” Ucap ibunya dengan nada sedikit tegas, menanggapi kata – kata terakhir Amira.  “ Lebih memalukan daripada diejek“

Mendengar kalimat ibunya, Amira menundukan kepalanya. “ Aku fikir, aku tak akan bisa menaklukan ketakutan ini, dan akan menjadi pecundang selamanya, ibu”

“ Tidak, kau hanya tidak tahu, bahwa kau lebih kuat dari apa yang kau fikirkan, sayang” Kata ibunya itu seperti kata – kata dari St. Mathew; “ dan, lihat, ia membawa kepadanya seorang yang sakit lumpuh, yang berbaring di atas tempat tidur; dan Nabi Isa... berkata kepada orang yang sakit lumpuh itu; Nak, bergembiralah; dosa – dosamu akan diampuni... Bangunlah, ambil kasurmu, dan pergi kerumahmu. Ia pun bangun, dan pulang kembali kerumahnya.

Amira mulai belajar berdiri, bukan dengan kakinya memang, tapi fikiran dan hatinya. Dia mulai sadar, bahwa sumber dari segala kebahagiaan dan penderitaan ada di dalam dua hal tersebut. Pelan – pelan, Amira menerima keadaanya, dan dia tak ingin lagi melewati waktu untuk menghabisi masa kanak – kanaknya dengan meratapi kelumpuhannya. Dan ia slalu berdoa, menjiplak doa yang luar biasa dan mengagumkan Dr. Reinhould Niebuht;

Tuhan, anugrahi aku kekuatan
Untuk menerima hal – hal yang tidak bisa aku ubah
Keberanian untuk merubah hal – hal yang bisa aku ubah
Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaanya

*

Amira mulai berani keluar rumah, dan menyapa dunia dengan senyuman ramah. Memang, awalnya sungguh berat, teman – teman Amira menerima kehadirannya dengan sikaf yang tak seperti ditunjukan pada anak – anak normal lain, sering pula terlontar ejekan – ejekan, dan segala yang dia benci, tapi Amira menanggapi mereka dengan tabah, dan sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Emerson; Ada sebuah saat dalam masa pendidikan individu dari setiap manusia ketika ia sampai pada sebuah keyakinan bahwa kebencian adalah sebuah kebodohan, bahwa peniruan adalah bunuh diri, bahwa ia harus menerima dirinya sendiri untuk yang terbaik atau yang terburuk, sebagai bagian dirinya. Bahwa walaupun jagat raya yang luas ini penuh dengan kebaikan, tidak ada biji jagung yang akan datang kepadanya selain melalui hasil kerja yang ia lakukan di bagian tanah yang telah diberikan kepadanya untuk diolah. Kekuatan yang berdiam dalam dirinya adalah sesuatu yang baru di alam, dan tidak ada seseorangpun selain dirinya yang tahu apa yang bisa dilakukan olehnya, dan ia sendiri pun tidak akan pernah tahu sampai ia mencobanya.

Pada akhirnya, teman-teman Amira sudah terbiasa dengan keberadaanya, dan mereka memperlakukan Amira seperti apa yang diharapkanya. Kini, dia menyesal kenapa tak melakukanya dari dulu, ternyata dunia tidak begitu menyebalkan seperti yang dia kira sebelumnya.

Tentu saja, ibunya pun ikut bahagia melihat anaknya bahagia. Rupanya, ucapan dia bahwa anaknya harus berani keluar rumah dan memulai apa yang Amira ingin lakukan adalah sebuah ucapan yang benar meski terlantun dengan sedikit marah. Semua itu adalah awal untuk Amira melanjutkan hidup, jika Amira hanya diam di rumah dengan kehampaan mungkin ceritanya akan lain. Ibunya jadi ingat dengan kisah nyata seorang penjelajah wanita, Osa Jhonson. Beliau menceritakan bagaimana dirinya bisa lepas dari duka cita melalui bukunya yang berjudul “ saya menikahi petualangan”. Sejak dia menikah dengan Martin Jhonson diusianya yang masih belia, dia mulai hidup dengan penuh petualangan. Selama seperempat abad, Osa Jhonson dan suaminya berkeliling dunia, dan membuat film tentang kehidupan liar di Asia dan Afrika. Setelah kembali ke Amerika, mereka melakukan perjalanan tur untuk menyebarkan film – film hebat mereka ke dunia. Tapi tragedi terjadi pada saat mereka terbang dengan pesawat dari Denver ke daerah Pantai, burung besi yang mereka tumpangi menabrak sebuah gunung. Suaminya meninggal seketika, sementara Osa Jhonson selamat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, beliau lumpuh. Hebatnya, tiga bulan setelah kejadian itu, Osa jhonson menunjukan bahwa dirinya adalah perempuan yang luar biasa, beliau bangkit dan memulai babakan hidup baru dengan memberi ceramah di atas kursi rodanya. Dan apa yang dilakukanya ternyata adalah agar beliau tidak mempunyai waktu untuk merasa sedih atas kondisinya.

Amira butuh kegiatan agar dia tak punya waktu untuk meratapi keadaanya, sebab seperti yang di bilang Osa Jhonson; saya harus menyibukan diri dalam kegiatan, jika tidak saya akan tenggelam dalam keputusasaan.

*

Suatu hari, siang begitu panas. Amira dan teman – temannya  tak bisa bermain di luar rumah, padahal dia lagi senang – senangnya melakukan hal itu, dan begitu menyesalkan cuaca tak ramah tersebut. Amira sedih, dan ibunya mendapati dia menangis sendiri.

“ Kamu, kenapa, nak? “

“ Teman-temanku tak keluar rumah, padahal aku ingin sekali bermain sama mereka. Di sini aku bosan” Jawab Amira dengan nada yang sendu dan manja layaknya anak kecil. “ Semua gara-gara matahari telalu terik”

“ Jangan begitu! Jika siang terlalu terik, setidaknya cuaca yang bagus untuk menjemur cucian. Julius Rosenward ( Presiden Seart, Roebuck and Company) pernah bilang; ketika anda memiliki jeruk lemon, buatlah sebuah jus lemot” Ujar Ibunya. “ Kamu pernah dengar cerita ini; dua orang melihat keluar dari balik teralis besi, seorang melihat lumpur, dan yang lainya melihat bintang. Kamu harus menjadi orang yang melihat bintang”

Kaliamat yang sederhana itu membuat Amira mudah mempelajarinya, dan dia pun menerima keadaan itu dengan seperti apa yang dikatakan Socrates; cobalah menerima dengan tenang jika memang harus demikian.

Amira tersenyum, lalu memeluk ibunya. “ Aku slalu terlambat menyadari segala kebenaran, ibu”

“ Tidak, kau anak yang pintar” Ucap ibunya menanggapi perkataan Amira “ Buktinya, sekarang kau sudah menerima kenyataan dan bahagia”

“ Ya, aku sudah bisa berdiri, walau bukan dengan kakiku “

“ Lalu dengan apa?? “

“ Dengan fikiran dan hatiku”

 “ Justru, itulah sejatinya berdiri “





( Thelman Thompson; Kebahagiaan kebanyakan bukanlah kenikmatan; ia kebanyakan adalah kemenangan)
Bandung, 2011-06-28

PEREMPUAN DAN ANGAN – ANGAN MALAM


di ambang jendela, rindu ia jagai
dengan terus menanti
serupa waktu; tak pernah ingin berhenti

kesepian ia kini. Sendirian, dan ia benci
hanya berteman anggur, dan sepenggal ilusi
yang mempertautkan kembali
sekuens -sekuens adegan yang pernah ia perankan
teracak oleh kenyataan

ia menderita, bahkan dalam mimpinya

*

andai saja cinta tidak meninggalkannya sendiri
mungkin tak akan habis malam hari,
yang menyisakan ruang murung
dengan pekat aroma alkohol pada atmospir terakhir
juga sanubari, yang sedang mengeluh panjang;
mengapa yang memabukan slalu terasa pahit?

salahkah ia, bila tak mau tahu apa yang sedang dilakukan
entah ini kehendak hati, atau sebuah keharusan
yang merindu akan slalu menunggu,
sampai cinta berkemas pergi lagi
sampai kekasih meningalkannya lagi

menangislah, walau itu hanya sebuah jalan
bukan merupakan tujuan!

*

perempuan dan angan-angan malam
begitu banyak waktu, untuk tenggelam
dalam kesetiaan
meski tanpa harapan
meski tanpa apa – apa
sebab cinta, mungkin absurd
namun, apakah ada yang lebih baik dari cinta di dunia ini?

“ Tunjukan padaku, jika ada!” kata ia, dalam nuansa sendu
“ Maka, aku berani sakit dan patah hati yang lebih untuk itu”


Bandung, 2011




KETIKA JENDELA SUDAH AKU TUTUP


oleh Dita Teguh Gumelar pada 23 Juni 2011 pukul 18:33 ·
( Semoga karya ini tidak terlalu dangkal bagi sahabat yang membacanya, bulan juni ini begitu gelap, dengan suasana yang pelit inspirasi )





di ambang jendela, aku berdiam lama-lama,
dalam detik-detik hening, dari waktu yang
tak tahu ke mana lagi akan sampai.

jam terus berputar bimbang. akankah tiba
pada saat ketika Tuhan berhenti mengawasi?
hingga aku tak perlu lagi berdoa, lalu
mengutuki segala sepi.

*

sebenarnya hari begitu cerah; jendela rumahku
tak luput dari sejuk udara pagi, dan tirainya
tersingkap untuk permai cahaya matahari. 
hingga aku terlibat dalam kesan yang panjang,
lalu jiwa di ajari sejatinya sebuah perasaan.

namun kehidupan di luar, dengan wajah penuh
kemunafikan, yang kutengok melalui kaca jendela,
seperti masam ekspresi iblis dalam mimpi setiap
nubuat.

sayang, mungkin aku bisa bersembunyi dari dunia,
tapi tak bisa menghindar untuk melihatnya.

*

mungkin, karena kopi secangkir, membuat aku pungkir
: apa arti tetap berdiri di ambang jendela,
jika kehidupan kepadamu slalu memanggil
untuk memberi pengalaman seru, atau kesempatan lain?

dan aku tetap menunggu akan datangnya malam
ketika jendela harus kututup, dan khayalan kuteruskan
dengan mata terkatup, hingga dunia begitu damai
kelewat damai.


Bandung, juni 2011





MEMBERI DAN MENERIMA


Dihadapan engkau, aku membacakan sajak – sajak shakespeare
Lalu cinta pun mendakukan bahwa senyumu itu adalah karenanya
dan berkata “ berterimakasihlah! “


Bandung, mei 2011