oleh Dita Teguh Gumelar pada 1 Juli 2011 pukul 10:44 ·
( Orang – orang yunani pernah mengajari dunia pada lima ratus tahun sebelum masehi “ Hal terbaik adalah hal yang paling sulit)
Masa kanak – kanak adalah masa yang mestinya membahagiakan, namun di kehidupan Amira justru sebaliknya. Cacat fisik yang dia derita sejak lahir memaksanya untuk merangkai kisah kanak – kanak dengan air mata yang hampir tak berkesudahan. Seakan dunia tak pernah berputar untuknya, dan protes sering terungkap sebagai bentuk keinginan untuk berontak.
“ Mengapa Tuhan menciptakan aku dengan keadaan tak sempurna, jika Dia ingin aku sebut Maha Adil?” Lenguh Amira, seorang anak yang lebih banyak bermain dalam mimpi. Riang berlari, di ruang tak berbatas. Jauh, meninggalkan kursi rodanya.
Yang sesungguhnya terjadi pada Amira adalah ia tidak menerima kenyataan, dan belum pernah mendengar kata -kata hebat dari seorang filosof besar prancis, Montaigne; Seseorang tidak akan merasa tersakiti begitu rupa oleh apa yang terjadi, tapi ia akan merasa tersakiti sedemikian rupa oleh pendapatnya tentang apa yang terjadi.
Andai Amira tahu seperti apa yang diperingatkan oleh Epictetus, bahwa kita harus merasa lebih peduli tentang menghilangkan fikiran – fikiran yang salah dari kepala kita daripada tentang menghilangkan tumor dan bengkak bernanah dari tubuh kita, mungkin dia tidak akan menderita seperti itu, dan melewati masa kanak – kanaknya dengan satu ekspresi; sedih.
*
Ketika kenyataan sudah tak menyenangkan lagi, kita pun hidup dalam ilusi. Begitu juga Amira, dia sering membayangkan dirinya bisa menunggangi sepedah, lalu mengayuhnya dengan kecepatan tinggi menuju taman, menuju senja, menuju tempat yang dia harapkan dapat membuatnya terkesima; surga.
“ Inikah masa kanak – kanakku, ibu? Hanya hidup dalam mimpi ” Tanya Amira kepada Ibunya, seseorang yang slalu setia menanti tangisan jiwa Amira. Sepanjang mengatakanya, Amira tak memandang wajah ibunya, Dia hanya terus mengawasi anak – anak sebayanya yang sedang kucing – kucingan di luar rumah melalui kaca jendela. “ Aku ingin seperti mereka, saling berkejaran hingga waktu tak terasa pelan - pelan lagi, bermain petak umpet sampai aku menemukan dan ditemukan tawa gembira, dan segala yang mengasikan”
“ Sesungguhnya kegembiraan tidak dapat ditentukan pada dimana kita berada, apa yang kita miliki, atau siapa kita, tapi semua bergantung pada sikaf mental.” Ibunya menanggapi “ Milton, seseorang yang buta menunjukan kebenaran itu dalam sebuah kalimat; Fikiran ditempatkanya sendiri, dan didalam dirinya sendiri, bisa membuat surga dari neraka, sebuah neraka dari surga.”
Tapi, Amira terlalu kecil untuk bisa mencerna kata – kata ibunya. “ Aku tidak mengerti, yang aku tahu, bahwa aku bosan di sini, aku bosan “
“ Ya, sudah. Kalau begitu jangan hanya berdiam saja di ambang jendela.” Ibunya sedikit emosi karena sikaf Amira yang begitu putus asa menghadapi kenyataanya” Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka, tapi kau harus berani memulainya, sebab keterbatasan manusia yang sesungguhnya adalah ketakutan, bukan karena kau tak punya kaki, atau karena tidak memiliki kesempurnaan fisik lain. Keluarlah, dan ajak mereka bermain! Bagaimana kau bisa menemukan sesuatu yang diinginkan, jika kau hanya mencarinya dalam mimpi? “
Amira mungkin sadar ibunya sedikit marah, sebab nadanya tak terdengar seperti biasa. Agak keras dan tegas. Amira pun tak langsung menanggapi ucapan terakhir ibunya, lama dia diam sebelum akhirnya membuka suara. “ Ya, aku takut, aku takut di ejek lagi, ibu” Ujar amira, dalam nuansa yang sendu. “Aku takut, dan tak mampu mengalahkan perasaan itu. Aku tak memiliki nyali untuk menaklukanya”
“ Dengan sikaf seperti itu, kau hanya akan menjadi pecundang untuk selamanya. Jangan menyiasati takdirmu dengan menyerah! Ketakutan adalah simbol kekalahan, dan itu memalukan, bahkan bangsa mongol yang paling idiot pun tahu” Ucap ibunya dengan nada sedikit tegas, menanggapi kata – kata terakhir Amira. “ Lebih memalukan daripada diejek“
Mendengar kalimat ibunya, Amira menundukan kepalanya. “ Aku fikir, aku tak akan bisa menaklukan ketakutan ini, dan akan menjadi pecundang selamanya, ibu”
“ Tidak, kau hanya tidak tahu, bahwa kau lebih kuat dari apa yang kau fikirkan, sayang” Kata ibunya itu seperti kata – kata dari St. Mathew; “ dan, lihat, ia membawa kepadanya seorang yang sakit lumpuh, yang berbaring di atas tempat tidur; dan Nabi Isa... berkata kepada orang yang sakit lumpuh itu; Nak, bergembiralah; dosa – dosamu akan diampuni... Bangunlah, ambil kasurmu, dan pergi kerumahmu. Ia pun bangun, dan pulang kembali kerumahnya.
Amira mulai belajar berdiri, bukan dengan kakinya memang, tapi fikiran dan hatinya. Dia mulai sadar, bahwa sumber dari segala kebahagiaan dan penderitaan ada di dalam dua hal tersebut. Pelan – pelan, Amira menerima keadaanya, dan dia tak ingin lagi melewati waktu untuk menghabisi masa kanak – kanaknya dengan meratapi kelumpuhannya. Dan ia slalu berdoa, menjiplak doa yang luar biasa dan mengagumkan Dr. Reinhould Niebuht;
Tuhan, anugrahi aku kekuatan
Untuk menerima hal – hal yang tidak bisa aku ubah
Keberanian untuk merubah hal – hal yang bisa aku ubah
Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaanya
*
Amira mulai berani keluar rumah, dan menyapa dunia dengan senyuman ramah. Memang, awalnya sungguh berat, teman – teman Amira menerima kehadirannya dengan sikaf yang tak seperti ditunjukan pada anak – anak normal lain, sering pula terlontar ejekan – ejekan, dan segala yang dia benci, tapi Amira menanggapi mereka dengan tabah, dan sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Emerson; Ada sebuah saat dalam masa pendidikan individu dari setiap manusia ketika ia sampai pada sebuah keyakinan bahwa kebencian adalah sebuah kebodohan, bahwa peniruan adalah bunuh diri, bahwa ia harus menerima dirinya sendiri untuk yang terbaik atau yang terburuk, sebagai bagian dirinya. Bahwa walaupun jagat raya yang luas ini penuh dengan kebaikan, tidak ada biji jagung yang akan datang kepadanya selain melalui hasil kerja yang ia lakukan di bagian tanah yang telah diberikan kepadanya untuk diolah. Kekuatan yang berdiam dalam dirinya adalah sesuatu yang baru di alam, dan tidak ada seseorangpun selain dirinya yang tahu apa yang bisa dilakukan olehnya, dan ia sendiri pun tidak akan pernah tahu sampai ia mencobanya.
Pada akhirnya, teman-teman Amira sudah terbiasa dengan keberadaanya, dan mereka memperlakukan Amira seperti apa yang diharapkanya. Kini, dia menyesal kenapa tak melakukanya dari dulu, ternyata dunia tidak begitu menyebalkan seperti yang dia kira sebelumnya.
Tentu saja, ibunya pun ikut bahagia melihat anaknya bahagia. Rupanya, ucapan dia bahwa anaknya harus berani keluar rumah dan memulai apa yang Amira ingin lakukan adalah sebuah ucapan yang benar meski terlantun dengan sedikit marah. Semua itu adalah awal untuk Amira melanjutkan hidup, jika Amira hanya diam di rumah dengan kehampaan mungkin ceritanya akan lain. Ibunya jadi ingat dengan kisah nyata seorang penjelajah wanita, Osa Jhonson. Beliau menceritakan bagaimana dirinya bisa lepas dari duka cita melalui bukunya yang berjudul “ saya menikahi petualangan”. Sejak dia menikah dengan Martin Jhonson diusianya yang masih belia, dia mulai hidup dengan penuh petualangan. Selama seperempat abad, Osa Jhonson dan suaminya berkeliling dunia, dan membuat film tentang kehidupan liar di Asia dan Afrika. Setelah kembali ke Amerika, mereka melakukan perjalanan tur untuk menyebarkan film – film hebat mereka ke dunia. Tapi tragedi terjadi pada saat mereka terbang dengan pesawat dari Denver ke daerah Pantai, burung besi yang mereka tumpangi menabrak sebuah gunung. Suaminya meninggal seketika, sementara Osa Jhonson selamat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, beliau lumpuh. Hebatnya, tiga bulan setelah kejadian itu, Osa jhonson menunjukan bahwa dirinya adalah perempuan yang luar biasa, beliau bangkit dan memulai babakan hidup baru dengan memberi ceramah di atas kursi rodanya. Dan apa yang dilakukanya ternyata adalah agar beliau tidak mempunyai waktu untuk merasa sedih atas kondisinya.
Amira butuh kegiatan agar dia tak punya waktu untuk meratapi keadaanya, sebab seperti yang di bilang Osa Jhonson; saya harus menyibukan diri dalam kegiatan, jika tidak saya akan tenggelam dalam keputusasaan.
*
Suatu hari, siang begitu panas. Amira dan teman – temannya tak bisa bermain di luar rumah, padahal dia lagi senang – senangnya melakukan hal itu, dan begitu menyesalkan cuaca tak ramah tersebut. Amira sedih, dan ibunya mendapati dia menangis sendiri.
“ Kamu, kenapa, nak? “
“ Teman-temanku tak keluar rumah, padahal aku ingin sekali bermain sama mereka. Di sini aku bosan” Jawab Amira dengan nada yang sendu dan manja layaknya anak kecil. “ Semua gara-gara matahari telalu terik”
“ Jangan begitu! Jika siang terlalu terik, setidaknya cuaca yang bagus untuk menjemur cucian. Julius Rosenward ( Presiden Seart, Roebuck and Company) pernah bilang; ketika anda memiliki jeruk lemon, buatlah sebuah jus lemot” Ujar Ibunya. “ Kamu pernah dengar cerita ini; dua orang melihat keluar dari balik teralis besi, seorang melihat lumpur, dan yang lainya melihat bintang. Kamu harus menjadi orang yang melihat bintang”
Kaliamat yang sederhana itu membuat Amira mudah mempelajarinya, dan dia pun menerima keadaan itu dengan seperti apa yang dikatakan Socrates; cobalah menerima dengan tenang jika memang harus demikian.
Amira tersenyum, lalu memeluk ibunya. “ Aku slalu terlambat menyadari segala kebenaran, ibu”
“ Tidak, kau anak yang pintar” Ucap ibunya menanggapi perkataan Amira “ Buktinya, sekarang kau sudah menerima kenyataan dan bahagia”
“ Ya, aku sudah bisa berdiri, walau bukan dengan kakiku “
“ Lalu dengan apa?? “
“ Dengan fikiran dan hatiku”
“ Justru, itulah sejatinya berdiri “
( Thelman Thompson; Kebahagiaan kebanyakan bukanlah kenikmatan; ia kebanyakan adalah kemenangan)
Bandung, 2011-06-28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar