oleh Dita Teguh Gumelar pada 27 Juli 2011 pukul 21:33 ·
Malam semakin larut dan udara pun semakin dingin, menyemaikan rasa kangen akan hangat pelukan kekasih. Dikeremangan cahaya kamar, aku duduk termangu-mangu di sudut ranjang. Termenung dengan mata memandang kosong ke arah langit melalui kaca jendela. Sendiri, terdiam terikat gravitasi. Sekitar begitu lengang. Aku merasa kesepian sekali. Kuning keemasan cahaya rembulan yang slalu setia menanti tangisan jiwaku seperti akhir dari sebuah harapan.
Aku menyulut rokok filter, dan menghembuskan asapnya keudara. Mesti suasana kamar sudah tidak menyediakan apa – apa lagi selain kesenduan, aku tidak tergerak untuk meninggalkanya. Maka mematunglah aku dengan khayalan dan fikiran yang berkeliaran kemana-mana. Lalu segala nuansa yang ada pun sertamerta menyingkaf khazanah masa lalu. Cuplikan – cuplikan kisah yang akan pernah terjadi lagi dan tak bisa di putar jarum jam kembali tergambar di layar benakku. Ingatanku terus merangkak dari satu kenangan ke kenangan lain.
Lalu, aku terkenang kembali pada Levia Tan ( Sebut saja dengan nama itu). Dia seorang perempuan yang pernah memintaku untuk melupakannya, namun aku tak pernah bisa menemukan cara untuk memujudkan keinginannya tersebut. Sampai sekarang, aku masih bisa melihat dengan jelas dalam ingatan, bagaimana cara matanya memandang, indah senyumannya, hingga lembut perkataan sayangnya. Sungguh, setelah hidup tanpa Levia, aku kehilangan banyak hal.
Sejak semula, sebenarnya aku dan levia sudah bisa menduga bahwa hubungan kami tidak akan langgeng, sebab kami menjalaninya dengan ketakutan, bukan harapan. Cinta kami sudah tidak memiliki kepastian lagi. Tak ada masa depan, sebab dia seorang pelacur.
“ Mencintaimu adalah hal yang paling aku takutkan, tapi perasaan itu tumbuh tak terkendali” Kataku di suatu malam yang sama seperti malam ini; pekat dengan nuansa sendu. Tentu saya gaya bahasa kami yang sesungguhnya tidak seperti ini, aku menatanya agar enak untuk di baca.
“ Aku juga seperti itu.” Sahut Levia. Matanya yang bulat indah itu tak memandangku sepanjang mengatakanya, dia menatap kea rah lain. “ Aku merasa tak pantas untuk dicintai dan mencintai. Tapi itulah cinta, siapa yang bisa mengendalikanya”
“ Tak ada satu individu dari manusia yang berada dalam posisi tak memiliki hak untuk saling mencintai dan dicintai” Aku terdiam sejurus untuk menghiruk nafas panjang sebelum kembali membuka suara. “ Aku takut, karena ragu terhadap diriku sendiri. Aku ragu tak dapat membahagiakanmu.” Lanjutku. “ Andai saja aku orang kaya, hingga kau tak perlu bekerja lagi. ”
“ Aku sering berfikir untuk berhenti dari pekerjaanku. Tapi, banyak hal yang membuat itu tak mudah untuk di wujudkan” Ujar Levia. “ Ah, mungkin memang sudah seharusnya berjalan seperti ini”
“ Mengapa kamu bisa sampai ke jalan ini? Tanyaku dengan rasa penasaran, sebab selama ini aku ingin tahu, tapi hanya memendamnya saja.
“ Ceritanya panjang” Seru perempuan pemilik wajah berbentuk oval dan berhidung mancung itu.
“ Aku akan mendengarkan”
Levia mengambil nafas sejenak sebelum mengungkapkannya. "Sejak meninggalkan keluarganya yang sulit untuk dikatakan harmonis dan disfungsional, aku harus menyerang segala keadaanya seorang diri.” Dia mulai bercerita dengan nada yang datar dan pelan-pelan. “ Delapan belas tahun usiaku ketika itu. Memulai babakan hidup baru, dan mencoba melahirkan kembali kebahagiaan yang telah di rebut. Namun, itu tidak semudah yang aku kira, masalah demi masalah datang menerjang. Dari semua masalah yang aku hadapi, krisis keuangan yang paling berat. Sejumlah materi yang aku bawa dari rumah kian hari kian berkurang. Aku harus mencari sumber penghasilan jika tak ingin lagi pulang ke tempat yang hanya menyuguhkan ketidak nyamanan. Sungguh menjadi sebuah bayangan yang mengerikan bagiku apabila harus kembali tinggal bersama orang tuaku, sebab bukan tidak mungkin, aku akan kembali menyaksikan pertikaian demi pertikaian mereka, itu sebuah hal yang paling mengecewakan bagi seorang anak.”
“ Aku mengerti kesedihanmu. Aku juga mengalaminya” Kataku sambil mengelus-elus pundaknya dengan kulit putih bersih itu, dan menawarkan pundaku untuk dia bersandar. Levia pun melanjutkan cerita dalam dekapanku.
“ Aku mulai memburu pekejaan. Dengan izasah SMU, aku melamar dari perusahaan ke perusahaan. Tanpa ada perjuangan keras, aku di terima oleh sebuah perusahaan agensi SPG (Selles Promotion Girls) untuk menjadi karyawanya paruh waktu. Tentu saja, gajih dari profesi tersebut tak dapat mencukupi kebutuhan hidup. Sebab, aku hanya bekerja tiga hari dalam seminggu; satu hari untuk briefing, dua hari operasional di tempat – tempat yang di tentukan dengan bayaran 350 ribu.” Ucap Levia, masih dalam nuansa yang sendu. “ Tapi Aku tetap menjalaninya sambil mencari pekerjaan lain. Tak lebih dari dua bulan, aku mendapatkan pekerjaan baru sebagai cutomer Service di sebuah perusahaan Provider Cellular terkemuka di Indonesia, dengan penghasilan tiga kali lebih besar dari pekerjaan dia sebelumnya. Aku bersyukur, dan menjalaninya dengan suka cita. Akan tetapi, pada suatu saat, aku mendapat tawaran untuk menjadi pemandu lagu di sebuah karaoke entertainment.”
“ Dan kamu menerimanya”
“ Ya” Jawab Levia “ Aku masih terlalu remaja untuk berfikir panjang. Karena profesi tersebut menjanjikan pendapatan yang menggiurkan, Aku pun menerimanya tanpa pertimbangan yang matang” Lanjut Levia. “ Untuk beberapa minggu aku benar-benar menjadi seorang pemandu lagu yang hanya melakukan pekerjaan tak lebih dari tugasku. Tapi lingkungan yang dipenuhi individu dari manusia yang gemar memburu hal – hal bersifat kedagingan, mempengaruhi jiwa dan cara pikirku, yang ketika itu masih begitu labil. Akhirnya, aku menjadi salah satu dari mereka.
“ Ah, hampir semua pelaku hiburan malam tak ada yang selamat dari wabah sekulerisme dan hedonisme.”
Dia mengangguk – anggukan kepala dan kembali melanjutkan ceritanya “ Semua menjadi awal dimana akhirnya keduniawian dan kesenangan menjadi motivasiku untuk bertahan hidup”
“ Lalu”
“ Aku semakin gila. Materi memang kerap membutakan hati nurani, dan itu terjadi terhadapku. Aku mengalami khilaf ketika kerja keras dan kesabaran tidak juga membawaku pada kehidupan yang lebih baik. Rasa lelah karena harus mengulang tahapan yang sama dalam mencapai kesuksesan, menuntunku untuk memilih jalan pintas sebagai sebuah sikaf protes. Dengan menghalalkan segala cara, aku mencoba mewujudkan impian untuk menjadi seseorang yang hidup dalam kemapanan. Meski banyak yang di pertaruhkan di sana, tapi aku tak peduli. Aku memang seorang yang selalu merasa lebih mengetahui peranya dari sesiapa pun, dan aku sudah memilih jalan hidupku untuk menjadi pemandu lagu yang tak sekedar menemani tamu – tamu bernyanyi. Aku menerima layanan lebih, dan kau pasti mengerti apa itu tanpa aku katakan”
“ Apakah kamu merasa sudah meraih semua cita –cita itu”
“ Kamu lihat sendiri” Jawab Levia, sambil tetap betah bersandar di pundaku “ Semua itu bukanya membawaku pada kehidupan yang lebih baik, malah keterpurukan yang menyakitkan. Jangankan kaya secara materi, sekarang, untuk hati pun susah.”
“ Apakah kamu menyesal?” Tanyaku sambil membelai rambutnya yang panjang bergelombang itu.
“ Aku sudah kena batunya, dan yang bisa aku pelajari dari semua ini; sakitnya sesal slalu hidu melebihi potensinya.” Jawab Levia dengan nada yang melirih “ Kini, betapa hari-hariku adalah hari-hari yang berat untruk dilalui. Terlalu banyak luka. Terlalu banyak air mata. Namun, aku hanya bisa menyesalinya. Tak ada lagi yang bisa aku perbuat, aku sudah masuk terlalu dalam ke dunia ini “
“ Setiap orang tentu ingin bahagia, namun tak jarang takdir berkata lain. Dan ketika itu terjadi, kita hanya bisa menerimanya dengan cara masing-masing. Seorang teman pernah bicara kepadaku;kenyataan memang slalu tidak sesuai dengan harapan. Sesungguhnya, apa pun yang kita alami, hal itu wajar. Semua merupakan bagian dari proses yang harus kita jalani untuk menjadikan kita lebih dewasa dalam hidup. “
“ Apa yang aku alami, tak menjadikan aku dewasa, melainkan putus asa.”
***
Mencintai Levia, mungkin adalah kesalahan terbesarku, tapi aku tak menyesalinya. Aku yakin semua ini adalah salah satu drama dari Tuhan untuk kita, dan juga percaya, mana mungkin Dia meninggalkan kita begitu saja setelah membawa kita sejauh ini. Slalu ada hikmah dibalik takdir kita. Tak ada yang sia – sia di setiap rencanaNya. Tuhan sang maha perencana yang baik, dia ciptakan perjodohan kita bukan tanpa alasan.
Jadi ingat saat pertama kali kami ditakdirkan untuk saling mengisi hidup satu sama lain; Aku dan Levia sama – sama menjadi penghuni sebuah kossan. Kami baru saling berkenalan kira- kira dua bulan setelah dia tinggal di sana. Kami tak pernah membayangkan akan memiliki hubungan sejauh ini, sebab sebelumnya kami bersikaf acuh tak acuh satu sama lain, bahkan kami tidak pernah saling menyapa ketika kami sedang berpapasan. Peristiwa yang menjadi awal dari kisah penting dalam sejarah hidup kami begitu sederhana, ketika itu Levia kehilangan kunci pintu kamarnya, dan dia meminta tolong padaku untuk membukakan pintu itu dengan cara apa pun. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi tak sama lagi. Aku dan levia sering melewatkan perjalanan waktu bersama, walau hanya untuk sekedar minum kopi, bercengkrama mengisahkan kehidupan kami masing masing, dan berbagi lamunan.
“ Kehadiranmu, membuat hidupku jadi tak sepi lagi” Ucap Levia dengan nada lembut, dia tersenyum sepanjang mengatakanya. Barisan giginya yang putih rapih tersingkap di bibir tipis dan terkesan slalu basah. Manis sekali.“ Terimakasih telah menunjukan aku arti sebuah pertemanan “
“ Sama – sama. Aku juga merasa beruntung bisa mendepat kesempatan untuk masuk kedalam kehidupan kamu, dan berbagi” Aku menanggapinya.
“ Ngomong – ngomong, kenapa kita bisa menjadi akrab seperti ini? “
“ Entahlah, mungkin karena memiliki banyak kesamaan” Jawabku. “ Kita sama – sama anak broken home, punya minat yang sama terhadap seni, dan suka mabuk”
Dia tersenyum di buat – buat “ Ya, mungkin”
“ Apa pun itu, yang jelas, aku sangat menikmati saat – saat berada di sisimu, semoga kita akan slalu seperti ini selamanya. “
“ Semoga saja. “ Ujar Levia. Dia terdiam sejurus sebelum akhirnya kembali membuka suara. “Sebuah hubungan antara individu dari manusia slalu terkurung dalam misteri pertemuan dan perpisahan. Kita hanya dapat menjaga agar tetap saling menggenggam erat tangan, dan selebihnya di luar kuasa kita”
***
Ya, benar kata Levia; Sebuah hubungan antara individu dari manusia slalu terkurung dalam misteri pertemuan dan perpisahan. Kita hanya dapat menjaga agar tetap saling menggenggam erat tangan, dan selebihnya di luar kuasa kita. Dan, Tuhan sudah menunjukan kuasanya.
“ Apa akan tetap berwarna merah muda puisi cinta, bagi kekasih –kekasih lain yang sakit dan patah hati? “ Tanyaku, yang sebenarnya sebuah pertanyaan yang tanpa menunggu jawaban,
Lama kita hanya diam, tak ada yang kau dan aku lakukan selain menatap kosong waktu yang berlalu bersama tik tok jam, sebelum akhirnya Levia membuka suara.“ Sejak semula; di larik awal, puisi cinta kita hanya pekat dengan warna gelap, dengan idiom – idiom terjal dan kacau.” Katanya dengan nada yang melirih, menanggapi ucapanku “ Slalu ada yang tak terhasratkan dalam batas keindahan untaian kata, jika kaidah – kaidah dan aturan berbahasanya lebih penting dari pada perasaan”
“ Dan sekarang kita telah sampai di larik terakhir” Aku terdiam sejurus untuk menyalakan rokok “ Ah, akhirnya kembali tiba Waktu; momen yang punya banyak tanya; ketika cinta tidak memberi penjelasan apa- apa, ketika makna kehadirannya sulit untuk di mengerti, ketika kita hanya ingin melupakan dan dilupakan”
***
Tiba – tiba, dari media player komputerku terdengar alunan musik yang akrab ditelinga, sebuah lagu lama yang di daur ulang oleh penyanyi pop Mariah Carey bertajuk ‘I Can’t live’. Tembang kesukaan Levia itu mengembalikan kesadaranku. Entah sudah berapa lama aku hanyut dalam kisah masa lalu itu. Tapi aku tak peduli dan hanya berkata dalam hati “ I Can’t Live. I Can’t Live Without U.”
Betapa, kita berpisah semudah dan sesederhana seperti kita bertemu, tapi sungguh meninggalkan sekotak kenangan yang teramat indah untuk dilupakan. Tak ada yang lebih indah saat kasandra di sisi. Kini, Levia mungkin tidak akan hadir kembali di alam panaku, namun aku masih bisa menemuinya dalam ingatan, dan itu sudah cukup bagiku.
“ Terimaksaih, Levia. Kehadiranmu begitu banyak memberi arti dalam hidupku. Walau sebentar, namun abadi dalam ingatan. Aku akan tetap merindukanmu “
Bandung, juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar